Robert Webber suatu kali berlibur bersama orang tuanya ke daerah pertanian di Pennsylvania. Robert yang waktu itu berumur 9 tahun sangat suka makan buah berry. Jadi ia mengambil sebuah ember dan mulai memetik buah berry di kebun tetangganya. Tiba-tiba sang tetangga membuka pintu, mengacungkan tinju sambil berteriak, "Pergi dari kebunku! Jangan sampai aku melihatmu lagi di sini!" Robert ketakutan. Ia berlari untuk memberitahukan ayahnya. Pak Webber lalu berkata kepada anaknya, "Berikan ember berry itu. Kita akan berbicara dengan orang itu." Dalam hati, Robert berpikir, "Bagus, ayahku akan memberinya pelajaran!" Ketika tiba di rumah pemilik buah berry, Pak Webber berkata, "Tuan, saya minta maaf atas kelancangan anak saya ini. Ini saya kembalikan buah berry yang diambil anak saya."
Tetangganya terpana dan berkata,
"Hei, maaf. Sayalah yang salah karena telah membentak anak Bapak. Saya tidak mau menerima buah berry itu, karena saya tidak menyukainya. Ambil saja untuk anak Bapak. Dan lain kali dia boleh memetik buah berry di kebun saya."
Dalam perjalanan pulang, sang ayah berkata,
"Nak, ingatlah jawaban yang lemah lembut memadamkan amarah."
Marilah kita belajar mengendalikan perkataan kita, sehingga mampu memenangkan tantangan demi tantangan, bahkan menaklukkan hati para penentang kita. Tuhan memberkatimu.

No comments:
Post a Comment